FORECASTING – Part 2

Part 2 Jika Anda mulai mengkaji lebih dalam disiplin ilmu Forecasting, maka anda akan menemukan fakta bahwa sesungguhnya ilmu ini bukanlah hal baru dalam kehidupan kita. Tanpa sadar kita telah banyak merasakan manfaat aplikasi ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari.

Part 2

Jika Anda mulai mengkaji lebih dalam disiplin ilmu Forecasting, maka anda akan menemukan fakta bahwa sesungguhnya ilmu ini bukanlah hal baru dalam kehidupan kita. Tanpa sadar kita telah banyak merasakan manfaat aplikasi ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, ramalan cuaca dari BMKG yang kita tonton setiap pagi, atau sistem pengendalian bahan baku dalam industri manufaktur, atau asumsi-asumsi yang dibuat oleh bagian penjualan untuk menyusun target penjualan perusahaan tahun depan, dan sebagainya.

Dalam skala negara, ilmu Forecasting ini selalu dipakai oleh pemerintah untuk membuat asumsi-asumsi makro ekonomi di masa depan sebagai pijakan dalam menyusun APBN. Tak ketinggalan pula dalam dunia politik, ilmu ini banyak dipakai oleh para konsultan politik untuk menyusun strategi pemenangan terhadap calon-calon pemimpin negara, kepala daerah, atau pun calon anggota dewan yang menjadi kliennya.

Dengan semakin meluasnya bidang aplikasi ilmu Forecasting ini, metode-metode peramalan pun juga semakin berkembang. Sebab setiap bidang, bahkan setiap kasus, memiliki pendekatan metodologis sendiri-sendiri sesuai dengan ketersediaan data dan pola-pola yang dimiliki. Peramalan politik tentu akan berbeda dengan peramalan ekonomi. Peramalan sosial tentulah berbeda dengan peramalan alam, seperti gerhana, aktivitas gunung berapi, cuaca, dsb.

Namun secara umum menurut Makridakis, dkk (1992), Forecasting, khususnya peramalan kuantitatif, hanya dapat diterapkan bila terdapat tiga kondisi:

(1) Tersedia informasi tentang masa lalu;

(2) Informasi tersebut dapat dikuantifikasi dalam bentuk data numerik; dan

(3) Dapat diasumsikan beberapa aspek pola masa lalu akan terus berlanjut di masa mendatang.

Jika ketiga syarat ini ada, maka peramalan peristiwa di masa depan dapat dilakukan.

Pada prinsipnya, Forcasting merupakan seni membaca pola-pola berulang dari masa lalu dalam rentang waktu tertentu, baik itu berupa trend, musim, atau pun siklus, kemudian diproyeksikan ke masa depan. Metode-metode Forecasting terus dikembangkan seiring waktu, untuk memperkecil margin error (kesalahan) antara peramalan dan kenyataan yang terjadi.

Selain untuk meramalkan peristiwa, Forecasting juga dapat dipakai untuk meramalkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi atau akibat jangka panjang dari sebuah kebijakan atau produk hukum. Itu sebabnya dalam hasanah fiqh islam dikenal yang namanya “fiqh maalat”, yaitu kajian tentang implikasi dari sebuah penerapan hukum sebelum ditetapkan sebagai fatwa hukum yang mengikat semua orang.

Begitu pun seharusnya para pembuat kebijakan, baik dalam skala organisasi maupun dalam skala negara. Implikasi dari sebuah kebijakan, aturan ataupun norma hukum benar-benar harus mampu diramalkan implikasinya agar maksud dari dibuatnya kebijakan atau aturan tersebut dapat tercapi.

Mendalami ilmu Forcasting dan metode-metodenya sangatlah menarik. Terutama karena saat ini kita hidup di dunia yang mengalamai perubahan-perubahan dramatis dalam tempo yang cepat. Bukan hanya revolusi ilmu pengetahuan dan teknologis, tetapi juga pergeseran kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi peta dunia. Seperti apa trend-trend yang akan terjadi di masa depan? Ayo kita persiapkan diri!

November 28, 2018

0 responses on "FORECASTING - Part 2"

Leave a Message

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ABI University

ABI University merupakan sebuah wadah memperkaya wawasan dan gagasan ke Indonesiaan

ABI Univeristy : How to Elevate Indonesia

top
ABI University 2018. All rights reserved.